Istilah Asuransi Budaya Diperkenalkan Oleh Siapa? Ini penjelasan Detailnya, Jangan Dilewatkan!

Foto: freepik@redgreystock

Istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh siapa? Pertanyaan ini sering muncul di soal-soal pada jenjang pendidikan SMP hingga Perguruan Tinggi. Sebenarnya ada beberapa pendapat untuk pertanyaan tersebut dengan jawaban yang tidak sama. Untuk itu simak penjelasannya berikut ini!

Pengertian Asuransi Budaya

Untuk menjawab pertanyaan istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh siapa kita perlu tahu terlebih dahulu tentang pengertian asuransi dan asuransi budaya itu sendiri.

Asuransi merupakan bentuk perlindungan diri dan harta benda atas berbagai risiko yang kemungkinan bisa terjadi pada masa depan.

Adapun asuransi budaya adalah bentuk perlindungan dan pengembangan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh sebuah organisasi, perusahaan atau komunitas, yakni nilai-nilai sosial, etika, serta moral.

Dalam sebuah lingkungan kerja atau perusahaan asuransi budaya merupakan bentuk perlindungan perusahaan kepada karyawan, yakni pemberian perlindungan terhadap kemungkinan adanya perilaku yang tidak baik, pelanggaran etika dan lain-lain.

Apa itu Asuransi Budaya

Istilah Asuransi Budaya Diperkenalkan Oleh Siapa?

Nah sekarang saatnya memberikan jawaban atas pertanyaan, istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh siapa?

1. Karl Weick dalam bukunya,”The Social Phsycology of Organizing”(1979) mencetuskan dua teori yang erat kaitannya dengan asuransi budaya.

a. Teori Sistem

Istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh Karl Weick, yang pertama melalui teori sistem. Weick menggunakan Teori Sistem (General System Theory) untuk menyatakan pengaruh informasi, yang berasal dari eksternal organisasi ke dalam internal organisasi maupun sebaliknya.

Manfaat dari teori sistem adalah untuk memahami berbagai hubungan yang ada diantara berbagai departemen/bagian organisasi.

Baca juga: Pengertian Polis Asuransi, Contoh Polis Asuransi serta Manfaatnya, Anda Perlu Tahu!

Komponen penting dari teori sistem dalam pemahaman informasi internal organisasi yaitu umpan balik (feedback) suatu pesan yang dapat diciptakan dengan adanya komunikasi.

Contohnya, ketika dalam sebuah organisasi atau perusahaan seorang atasan mengumumkan sebuah kebijakan tertentu yang mungkin kurang sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki dalam organisasi tersebut. Selanjutnya para anggota bisa menyampaikan umpan balik melalui komunikasi yakni memberikan pendapat maupun saran.

Pengenalan Istilah Asuransi Budaya

b. Teori Evolusi Sosiokultural

Selanjutnya, istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh Karl Weick melalui teori evolusi sosiokultural. Dalam teori ini digambarkan tentang proses adaptasi individu terhadap perubahan lingkungan sosial dan budaya mereka sehingga mampu tetap bertahan.

Teori ini memberikan penjelasan tentang perubahan yang dilakukan oleh manusia dalam perilaku sosial, serta harapan untuk melakukan adaptasi atas perubahan sosial mereka. Sehubungan dengan asuransi budaya, Weick mengadopsi teori ini untuk menjelaskan proses yang harus dilaksanakan oleh sebuah organisasi dalam menyesuaikan diri saat menghadapi tekanan, serta berbagai informasi yang diterima organisasi.

Jadi, istilah asuransi budaya yang memberikan banyak interpretasi di dalam sebuah organisasi diperkenalkan oleh Karl Weick. Kemudian teori Karl Weick tersebut dikembangkan oleh banyak organisasi serta menjadi bahan penelitian studi mahasiswa. Penelitian memiliki tujuan untuk mengidentifikasi proses pengorganisasian berdasarkan pada Teori Weick antara lain mengenai pembentukan budaya organisasi.

Istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh Karl Weick pada era sekarang telah berlaku di perusahaan, organisasi, serta komunitas. Hal ini menunjukkan meningkatnya tingkat kesadaran masyarakat untuk melindungi nilai-nilai moral, adab, etika, adab, serta pengembangan nilai-nilai budaya kita.

2. UNESCO

Pendapat lain menyebutkan bahwa istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh UNESCO yakni badan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Kaitannya dengan asuransi budaya, UNESCO juga memberikan perhatian khusus pada perlindungan nilai-nilai etika, adab, moral dan budaya dalam organisasi, perusahaan maupun komunitas.

Pelaksanaan Asuransi Budaya

Pelaksanaan asuransi budaya di organisasi, perusahaan maupun komunitas perlu menetapkan aturan yang jelas sehubungan dengan perlindungan dan pengembangan nilai-nilai budaya. Aturan yang dibuat secara jelas akan mempermudah pelaksanaan asuransi budaya.

Budaya moral yang terdapat dalam organisasi, perusahaan, dan komunitas yaitu etika dalam berpendapat, adab, moral serta kinerja sehari-hari. Aturan harus diberlakukan bagi seluruh warga organisasi, perusahaan ataupun komunitas.

Untuk itu perlu adanya sumber daya manusia yang berkompeten dan profesional yang diberikan wewenang dalam mengelola asuransi budaya tersebut, sehingga pelaksanaan asuransi budaya dapat berjalan secara baik sesuai harapan.

Manfaat Pelaksanaan Asuransi Budaya

Manfaat Asuransi Budaya

Istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh Karl Weick, penerapannya terus dilanjutkan hingga saat ini dengan beberapa manfaat berikut ini:

    • Adanya asuransi budaya bermanfaat untuk memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai budaya sebuah organisasi, perusahaan, atau komunitas agar dapat terjaga dan dipertahankan secara lebih baik menggunakan cara-cara yang baik.
    • Asuransi budaya bermanfaat membantu dalam pengembangan budaya agar lebih baik sehingga orang-orang lebih menghargai nilai-nilai budaya yang ada.

Asuransi budaya diselenggarakan dalam berbagai lingkungan organisasi, perusahaan maupun komunitas yang berlaku bagi seluruh warga organisasi, perusahaan dan komunitas tersebut.

Baca juga: Rukun Asuransi Syariah Adalah Seperti Berikut Ini, Penting untuk Diketahui!

Dari beberapa manfaat tersebut sudah jelas bahwa pelaksanaan asuransi budaya pastinya memiliki kelebihan yaitu adanya asuransi budaya dapat membantu menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya dalam sebuah organisasi, perusahaan atau komunitas.

Asuransi budaya juga dapat membantu mengembangkan nilai-nilai budaya yang ada menjadi lebih baik dan dihargai oleh masyarakat. Maka dengan adanya asuransi budaya akan semakin memperkuat sebuah organisasi, perusahaan atau komunitas dan berkembang lebih baik.

Biaya Asuransi Budaya

Dalam pelaksanaan asuransi budaya membutuhkan sejumlah biaya yang besarnya bervariasi. Tentunya besarnya bisa ditentukan pada kemampuan masing-masing organisasi atau perusahaan. Dan dalam pelaksanaannya terkait biaya, setiap organisasi atau komunitas perlu merancang anggaran untuk asuransi budaya ini.

Semakin besar organisasi atau komunitas, maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dalam pelaksanaan asuransi budaya tersebut.

Istilah asuransi budaya diperkenalkan oleh seorang tokoh yang bernama Karl Weick. Pendapat lain menyatakan bahwa istilah tersebut diperkenalkan oleh UNESCO. Terlepas dari siapa yang memperkenalkan istilah asuransi budaya, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya, etika dan moral dalam organisasi, perusahaan dan komunitas agar terus terjaga dan berkembang dengan baik.

You might also like